Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2014

Engkau memuliakanku dengan ROMANTIS

Mungkin tak pernah tau seberapa berfungsi diri ini hingga Kau ingatkan aku akan kejadian itu.
hingga setiap orang bertanya, berapa lama perubahan ini terjadi.
Akupun hanya tersenyum bingung menjawab seberapa lama diri ini seperti ini.
Semula tak pernah berpikir menjadi seperti sekarang. Bagai mengejar perahu di tengah lautan. Pikirku hanya satu "Gak mungkin". Namun panggilan ini berbeda, panggilan yang begitu indah menyapaku.

Ya Allah, mungkin kelak panggilan menuju syurgaMu yang terindah bagiku. Namun, tak sanggup jika mengingat akan dosa-dosa yang telah ku perbuat, akan perkataan-perkataan yang pernah keluar dari mulut ini hingga seseorang tersakiti, Astagfirullah . . . . .

Rencanamu begitu romantis mendekatkanku padaMu. Ketenangan yang luar biasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Naik turunnya iman ini rasanya membuat aku malu untuk merindukanMu. Merencanakan akan pertemuan indah itu tapi tak punya bekal apa-apa untuk bertemu denganMu. Engkau dewasakanku dengan cara yang begitu amat romantis.

4tahun sudah aku menginjakan kakiku di kampus tercinta ini. Bagiku biasa saja rasanya, tapi mungkin jungkir balik ayah dan bunda mencari rizki untuk membayar SKS ku demi memindahkan tali dari kiri ke kanan. Demi gelar S.Kom yang ada di belakang namaku. demi gelar CCNA yang telah ku raih. Entah aku tak tau dibelakang keromantisan ini pasti kuyakin kelak ada tangis bahagia yang tak tergantikan dengan apapun. Aku bukan mahasiswa yang lulus dengan nilai cumlaude, tapi harapan ini hanya ingin menjadi anak yang cumlaude kelak di syurgaMu ya Rabb :')

Terimakasih ayah... Terimakasih bundaa.... engkau telah membesarkanku dengan cinta yang begitu amat besar terhadapku. 

Aku bukan siapa-siapa tanpa kedua orang tuaku. Allah memuliakanku dengan ilmu yang ia amanahkan padaku. Semoga apa yang telah Engkau amanahkan dapat aku jaga dengan sebaik-baiknya. Aku selalu menginginkan apa yang aku impikan, namun terkadang apa yang aku impikan tidak sebanding dengan apa yang aku dapatkan. Tapi aku menyadari, apa yang aku dapatkan adalah hal yang paling mulia yang Allah berikan padaku. Ia tak pernah memberikan apa yang hambaNya inginkan, melainkan apa yang hambaNya butuhkan.

Ya Rabb.... Istiqomahkanlah hati ini menuju pribadi yang terus berpikir dan berdzikir. Jadikanlah hamba pribadi yang selalu mengoreksi diri dan memperbaikinya. Astagfirulllah .. . . Astagfirullah . . . Astagfirullah . . . .
Read More »

Sabtu, 31 Mei 2014

Mumpung mimpi masih GRATIS

Siapapun pasti punya mimpi. Dari anak-anak hingga dewasa. Mimpi itu hadir tak hanya untuk orang kaya, bahkan orang miskin pun berhak bermimpi. Kakek nenek pun ku rasa masih ada mimpi-mimpi mereka di masa muda yang ingin sekali mereka lakukan. Ngomongin soal mimpi dan harapan. Apa sih perbedaannya? Menurutku mimpi dan harapan itu gak jauh beda, perbedaannya terletak pada step selanjutnya, yaitu mewujudkannya atau tidak. Siapa yang nggak mau mimpinya terwujud? Siapa juga yang mau mimpinya sekedar asa??? Oh iya, yang beda itu mimpi sama ngayal. Iya nggak sih? Gak tau juga sih perbedaan signifikannnya dimana. Tapi terbesit menerutku kalau kita bermimpi, kita masih ada usaha buat wujudin keinginan kita, tapi kalau ngayal? ya sekedar lewat aja.

Sewaktu kecil aku pernah bilang sama papa dan mama pengen banget jadi dokter, tapi tiba-tiba beranjak remaja pengen banget jadi penyanyi. heheh walaupun suara pas-pasan. Tapi beranjak dewasa mimpi itu mulai terlupakan dan terus berubah seiring berjalannya kedewasaan. Bahkan suka lupa sama mimpi-mimpi di tempo dulu. Ada yang terkabul, ada juga yang nggak terkabul. Namanya juga mimpi. Selagi masih gratis, apa salahnya bermimpi pengen jadi ini dan itu, pengen begini dan begitu. Sekalipun mimpi yang paling lucu adalah mimpi kepengen jadi artis. Entah apa sampai kepikiran kesana. 

Mulai bengong-bengong sendiri mikirin diri ini mau dibawa kemana dan mau jadi apa. Udah tingkat akhir kok masih gini-gini aja, skill juga ga fokus mau kemana. Akhirnya memutuskan untuk pindah jalur lagi, kebetulan dulu sekolah di bidang jaringan. Apa salahnya memulai lembaran baru lagi dan memulainya dari awal. Sempet mikir juga, aku ini perempuan, teman-teman yang lain gak ada yang mau ribet-ribet sama kabel dan teman-temannya. Tapi yasudahlah, inget kata-kata FOLLOW YOUR PASSION yang aku lihat di toko buku beberapa hari yang lalu. Aku seriusi di bidang itu, awalnya aku merasa jadi orang yang paling bodoh. Teman-temanku sudah ahli di bidangnya masing-masing, sedangkan aku???? Ini aja baru inget urutan kabel gimana. Sempat berpikir, ini aku bukan sih? Apa aku bisa? Lagi-lagi sebuah bisikan-bisikan yang terkadang meruntuhkan keinginan kita. Walau harus jatuh bangun untuk menstabilkan semangat ini, semua aku coba demi sebuah masa depan dan mimpi. 

Beberapa bulan mendalami jaringan, pusing rasanya. Bingung lagi sama bahasa-bahasa yang baru di temui. Suka ngerasa kesel kalau yang lain lagi ngebahas soal jaringan. Aku cuma diem karena gak ngerti. Bosen banget jadi orang yang manggut-manggut kaya daun yang gampang di terpa angin kesana kesini. huuuhhh mau nggak mau belajar keras buat menyamaratakan posisi teman-temanku yang lain. Walaupun tidak sama rata, setidaknya aku berusaha berlari agar tidak terlalu jauh posisi ku dengan mereka.

dan akhirnya mimpi-mimpiku mulai terwujud satu per satu, Awal bulan 2014, salah satu mimpiku adalah dibawah ini :
dan akupun makin semangat untuk mengejar mimpi-mimpiku yang lain. Siapa bilang perempuan tidak bisa berkarya? Siapa bilang perempuan tidak memiliki kesempatan? Bahwasanya perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Perempuan yang cerdas akan mempersiapkan untuk generasi yang cerdas. Semangat karena Allah, semangat karena niatku untuk berbagi dengan yang lain, dan semoga tetap istiqomah dalam belajar.

Dan inilah mimpi-mimpiku yang selanjutnya siap menyusul. Mungkin sebagian yang melihat akan menertawakan atau berucap tak mungkin. Tapi InsyaAllah mudah-mudahan salah satu apa yang ku tulis akan tercoret satu per satu karena keberhasilanku meraih mimpi tersebut, dan di kamarku tertulis:

IMPIAN MANDA 2014

1.   KURBAN
2.   SUKSES NAJWA
3.   MENIKAH
4.   WISUDA
5.   Kerja di Datacomm/ GOLD PARTNER CISCO
6.   Jadi CONSULTANT NETWORK
7.   GAJI PERTAMA ≥ 3.5 Juta
8.   PUNYA RUMAH SENDIRI
9.   PUNYA KENDARAAN SENDIRI
10.UMROH
11.PUNYA BUKU SENDIRI
12.SPEAKER
13.BELAJAR BAHASA PERANCIS & INGGRIS
14.PERSIAPAN BOOTCAMP CCIE

BAGI YANG MEMBACA TULISAN INI HARAP DI AAMIIN-KAN

J J J J J J J J J J J J J J J J J J J J J J


Read More »

Selasa, 20 Mei 2014

Ketika NYONTEK sudah jadi hal yang biasa

kala itu aku duduk disemester 1, saat pertama merasakan ujian tengah semester dikampus tercinta. Pertama kali ngerasain ujian dengan status yang berbeda, mahasiswa.


Beberapa bulan kemudian, mulai terbiasa dengan hawa-hawa kampus. Mulai tahu bagaimana susahnya cari nilai dikampus. Beda banget sama SMK dulu, kalau nilai jelek tinggal ke ruang guru buat protes. Walaupun jadi mahasiswa juga bisa protes, tapi prosesnya yang jelas gak sama kaya anak sekolah. Okay, karena udah tau prosesnya riweuh aku pun berupaya keras untuk belajar tekun untuk mendapatkan nilai yang baik. Sebelum menginjakan kaki ke kampus ini aku sudah berjanji pada diriku sendiri, gak mau yang namanya asal kuliah, gak mau yang namanya males-malesan, dan mau tetep jadi anak yang membanggakan kedua orangtua walaupun dipisahkan jarak tak menghalangi keseriusan belajarku. Ngomongin soal UM, aku sih setuju-setuju aja dan gak ada yang bilang juga UM itu haram. Gak ada juga kan fatwa atau hadits yang mengatakan kalau UM itu dilarang? Hehehe . . . .

Kali itu IP pertamaku keluar, hemm cukup bagus walaupun tak begitu terlalu besar namun tetap bersyukur dengan nilai yang kudapat. Hanya huruf A dan B yang menghiasi rangkuman nilai. Walau kalau dilirik dengan teman-temanku yang lain IP nya luar biasa bagus. Hal itu membuatku lebih bersemangat agar disemester 2 nanti aku akan perbaiki nilai-nilaiku. Saat itu juga temanku yang lain berkata “nilai lo berapa? Kok gw bisa dapet D sih? Padahal gw masuk mulu lho… ah kalau gini gw UM aja deh.” Emm ga ada yang salah sih sama statement ini. Hidup ini pilihan, bener kan? Sama halnya kaya pilih jalan, masing-masing orang punya hak sendiri buat tentuin jalan mana yang dia lewati. ‘yang penti sampe kan?’, namun banyak yang tidak memerhatikan proses dari perjalanan tersebut. Sekali lagi saya ungkapkan, masing-masing orang punya pilihan sendiri. Begitupun saya J saya juga bukan mahasiswa yang tergolong pintar, nilai saya bagus karena saya rajin. Dibilang rajin juga enggak, rajinnya pas mau UTS, UAS dan UU aja bisa dibilang. Dikelas juga gak serius-serius banget. Bahkan dikelas biasanya ngurusin yang lain, Alhamdulillah saya diberikan kesempatan untuk mengikuti organisasi-organisasi keren dikampus. Setidaknya kelak ada cerita manis dikampus ungu ini. Kenangan menjadi seorang mahasiswa, walau demikian nilai tetap prioritas utamaku. Sampai sekarang pun juga masih belajar bagaimana memanage waktu dengan baik. Jadi mahasiswa serabutan itu menyenangkan, serabutan kesana kemari, serabutan ngerjain tugas, serabutan ngurusin organisasi, serabutan ngurusin lab, dan selalu serabutan cari nilai. Tapi aku bertekad gak boleh sampe nilai jelek, malu banget aktivis nilai akademisnya jelek. Pintar ngomong di podium, sering ngomong kesana-kesini tapi nilai jelek. Okay jangan tersinggung yang baca tulisanku ya, aku menceritakan prinsip diriku dan sama sekali nggak menyudutkan pihak manapun. Lebih baik kalau cerita ini memotivasi kalian, baik yang baru memulai perkuliahan ataupun yang ingin menyudahi perkuliahan. Buatlah cerita kuliah kalian semanis mungkin J

Balik lagi ngomongin soal UM, beberapa hari ini ketemu sama 3 orang mahasiswa psikologi yang lagi ribet ngomongin skripsi. Hehehe peka banget ini telinga kalau orang ngomongin skripsi. Lagi-lagi ngomongin UM, “eh gimana nilai pancasila lo udah di UM-in?”. seketika aku nggak mau denger lagi pembicaraan mereka. Udah seneng lihat mahasiswa semangat ngomongin skripsi, eh ngomongin UM lagi. “Gw lulus dengan IPK 3.4 dong, bangga banget ya gw”. Bagus sih ga ada masalah juga kalau memang alasannya buat kerja. Baiknya ditambah skill untuk mempertanggungjawabkan IPKnya. Aku aja merasa gak pantes nih dapet IPK x.xx. Okay okay semua harus dipertanggungjawabkan. Banyak orang memilih pilihan untuk UM karena mau skripsi, bagusnya masih ada rasa semangat untuk skripsi. Tapi sebagian temanku yang lain memilih untuk mengulang kelas demi memperbaiki nilai. Aku lebih senang dengan pilihan yang kedua. Mungkin kalian lebih tau apa alasanku. Memang sih yang namanya penyesalan selalu diakhir, “ya gimana kalau nilai gw jelek. Lo enak pinter, nilainya bagus-bagus”. Halooo tok tok tok gak ada orang pinter atau bodoh, yang ada orang yang mau belajar sama enggak. “ya lo enak ngerti, gw susah ngerti”. Lho, memangnya aku langsung ngerti? Mulanya akupun pusing. Namun aku masih mau mencoba belajar untuk bisa. Pesanku untuk mahasiswa yang ingin atau baru memulai perkuliahan, persiapkan dirimu, jangan sia-siakan uang yang telah orangtuamu berikan, kalau Cuma asal kuliah untuk apa? Namanya juga MAHASISWA, beda toh dengan SISWA? Berpikir kritis, bersikap analis dan jauhkan kata praktis. “kalau ada yang gampang ngapain cari yang susah”, tapi satu hal jangan sampai karena gak mau susah kita melupakan aarti penting sebuah proses. Hidup ini belajar kan? dan belajar itu didapatkan dari sebuah proses. Apakah Albert Einstein menemukan rumus itu langsung dapat? Enggak kan. baiklah balik lagi saya serahkan kepada para pembaca. Setiap orang punya pilihan masing-masing. Ada satu kata yang ku kutip dari seorang temanku “UM atau enggak itu urusan pribadi masing-masing. Mau mereka nyontek, pake cheat, pake database juga mereka punya tuhan yang selalu memantaunya. Mereka bisa membohongi pengawas, tapi apa bisa mereka membohongi tuhannya? Semua tergantung idealisme kita. Kita sebagai mahasiswa Cuma turun kejalan aja teriak-teriak orasi nyuruh anggota DPR MPR pada turun karena korupsi. Tapi sadarkah kita kalau kita secara nggak langsung mendidik diri kita untuk menjadi koruptor? Pembohong? Pembual? Pencuri? Lakukan dan terapkan kejujuran dari diri sendiri. Belajar, berdoa dan berusaha. Itulah MAHASISWA!!!”

Tadi sore aku menonton acara televisi, ada anak SMA tdak lulus selama 3 tahun. Dan pada tahun ke-4 dia lulus. Dari situ aku belajar arti kejujuran itu mahal. Ketika beliau ditawari untuk pakai ‘joki’, ia menolaknya sekalipun diberikan coretan kertas berisi kunci jawaban. Ia berkata, “aku ingin lulus dengan hasil jerih payahku”. Nggak nyangka ternyata masih ada yang memegang teguh arti kejujuran, jangan sampai kita menuntut arti kejujuran tapi kita sendiri mengajari diri sendiri untuk jadi pembohong.


BELAJAR KERAS DAN BEKERJA CERDAS
“Dedy Gunawan – CEO IDNetwork”

Sekian pemaparan dan tanggapanku mengenai kacamata seorang mahasiswa tingkat akhir merangkum fenomena yang terjadi disekelilingku. 
Read More »

Selasa, 06 Mei 2014

Who is your ideal president for june selection?

Assalamu'alaikum wr. wb . . . . .

First time i want to say thank you and greatfull to Allah SWT and Prophet Muhammad SAW. I never follow election, because five years ago when i was in 17th years old i dont have identity card. So, i can't follow them. But now, i must follow and choose who is the best of the weak for next 5 years.

First, i dont care about that. I dont like disscuss about politic. As a matter of fact, i dont know who is the candidate of president in this year. Indonesia should re-arrange of cabinet. 2 days ago, i read in one of online newspaper about other country. there is a parliament go to other city by train. He was stand up in train, at the same time there are society who use train but they sit up beside him. who come? can you imagine if that condition in indonesia? parliament in other country he dont need bodyguard, he dont need luxury vehicles, because what? society in their country realize that he only an employee of society. So, they work for us. I really proud of that country.

You can take a conclusion  from my statement above?
I hope there is candidate of president in my country like that. As a moeslim, i want to my candidate should adjust principle of moeslim like Abu Bakar Ash-Shidiq. He is a good people, he can manage his country. Maybe, if you are a moeslim, you know exactly about story of Abu Bakar Ash- Sidiq. 

I have been meet a girl beside me in collage. When i ask her, who is your ideal president for this country? She answer "i dont care about that,  if i choose or not in june, indonesia never change. so for what i choose? its not my job". I answer, "How come if all of student like you not choose??? 10.000 people not choose in election this year?? you give a way for corruptor again. How come if a good people try to become a leader not you choose? you will have a bad leader again for next 5 years. Open mind please as a student. we are a student. so, be critics about this!!!!" For  a minute she think again. She realized about my word. i hope she not becoming a shadow :)

As a fact, maybe nothing people who perfect in this world.But whe must choose the best of the best for this country.  

A leader who have minimal 10 character in muslim :
1. Faithful and Charity Salih
2. Straight intentions
3. A man
4. Not Asking Job
5. Adhering to the Law of Allah SWT
6. Decide Things With Fair
7. advising people
8. Not Receiving a bribe 
9. firm
10. Gentle        


ONE MAN ONE VOTE !!! 



 

 
Read More »

Selasa, 18 Maret 2014

Sang pelangi dalam penulisanku


(Lanjutan part2)

Oh iya, perkenalkan namaku Ranum. Aku salah satu mahasiswi di universitas negeri ternama di negeri ini. Keseharianku aku aktif dalam organisasi manapun baik intern maupun ekstern kampus. Selain itu aku mengisi kekosongan hari-hariku dengan mengajarkan anak-anak remaja di sekolah luar biasa di kota sebrang. Hemm . . cukup lumayan jauh dari rumahku, namun pekerjaan ini membuatku nyaman dan membuatku lebih bermanfaat ketimbang aku habiskan waktuku di mall dengan teman-teman sebayaku. aku anak semata wayang. Aku hampir sama dengan lala, sama-sama ditinggal pergi oleh ibuku. Ya, kuharap ibuku sudah tenang disisi Allah dan mendapat tempak yang indah. Kini aku hanya punya seorang ayah yang sangat ku cinta. Ayahku mempunyai perusahaan kain ternama di negeri tercinta ini. Biasanya ia habiskan hari-harinya di lapangan. Aku sadari betul, ia lakukan semua itu demi menghidupiku dan untuk menyelesaikan studi-ku. 2tahun rasanya aku merasakan kehilangan sosok ibu yang selalu ku jadikan tempat cerita. Ibuku bagai pelita dalam hidupku, rasanya disaat penulisan akhir ini ingin ku paparkan semua yang ada dalam hatiku. Namun, Allah begitu menyayanginya. Sangat terlalu cepat bagiku kehilangan ibu. Rasanya aku belum sempat membalas semua kebaikan yang telah ibu lakukan padaku. Kini aku tak boleh meratapi kesedihanku, sungguh bukanlah sikap seorang muslimah yang baik jika aku melakukan hal itu. Yang terpenting adalah do'a yang harus ku panjatkan untuk sang ibu tercinta. Semoga kelak aku dapat mencontoh teladan yang telah ibu berikan di keluarga mungil ini.

Tak terasa waktuku tinggal 3 bulan lagi untuk menyelesaikan thesis ku ini. Pikiranku tak menentu, bingung rasanya harus berbuat apa. Dosen pembimbingku tak kunjung jua memberikanku Acc untuk melanjutkan penulisan ini ke BAB selanjutnya. Tapi aku tak boleh menyerah, sungguh garis finish itu sudah ada di depan mataku. Ku coba temui hari demi hari diruangannya yang selalu sepi. Harapan selalu kuberikan, berharap ia datang dan menandatangani tumpukan-tumpukan kertas yang kubawa. Hingga pada akhirnya hari ini adalah H-1 bulan. Semua teman-temanku sudah daftar sidang. Bagaimana ini?? Aku harus menyelesaikan di tahun ini. Aku nggak boleh terlambat apalagi sampai mengulang ditahun selanjutnya. Berbagai upaya ku lakukan, dan alhasil H-2 minggu ku dapatkan goresan tanda tangan  itu. Rasa syukur yang ada dalam hati ini sudah tak bisa lagi ku katakan. Ingin rasanya bertemu lala sebagai tanda terimakasih karena telah menjadi inspirasiku dalam penulisan ini. 

Alhamdulillah !!!! Sidang berjalan lancar dan aku dinyatakan LULUS dengan hasil yang baik dan gelar ini ku dapatkan juga. Bagiku gelar bukanlah segalanya, namun cukup melihat ayah tersenyum gagah di podium itu melihat aku berdiri dengan cantik memakai kebaya indah ini sudah cukup bagiku untuk membalas jerih payah yang ia lakukan untukku. Bagiku, tak ada yang paling membahagiakan kecuali melihat ayah tersenyum bahkan menangis bangga melihat aku. 

Hey mentari, inilah pelangi indah yang ku persembahkan khusus untuk ayahku tercinta. tetaplah menjadi pelangi yang indah dalam hidupku. Ku percaya engkau selalu hadir disaat aku merasa mendung itu datang. Senja selalu setia dalam menunggu kedatanganmu. Biar rasa ini menjadi saksi dimana engkaulah salah satu alasanku untuk berjuang. Pelangi yang tak pernah padam, pelangi yang selalu memberikan warna-warni ditengah mendung datang. Dan berjanjilah, tetaplah menjadi pelangi terindah didalam hidupku :)  

kini tiba saatnya . . . . . 

-bersambung-
Read More »

Kupanggil ia 'Lala'

(Part I)

Anak itu kupanggil lala. Paras cantik nan lucu itu membuat mata mana yang bisa memalingkan pandangannya ke arah lala. Lala lahir ditengah-tengah penatnya kota kecil di sebelah barat negeri ini. Bermodalkan kardus untuk alas tidur membuat lala menjadi anak yang kuat. Bagaimana tidak? Ditengah teriknya kota ini membuat lala harus bertahan hanya dengan sebuah kardus, dinginnya angn malam yang menusuk hingga ketulang sudah tak lagi lala rasakan di setiap malamnya. Anak seumurnya mungkin saat ini hanya duduk manis sambil menikmati masa kanak-kanaknya. Sudah 6 tahun lala ditinggal mati oleh ibunda tercinta. Ibunya meninggal pada saat ia lahir. Ayahnya tak tahu kemana perginya setelah pernikahan  itu terjadi. Ibunya berjuang seorang diri demi membesarkan lala. Namun, apa daya penyakit yang dimilikinya sudah tak dapat lagi ia tahan. Tubuhnya mulai melemah dan tak ada upaya lain selain hanya tidur terbaring diantara tumpukan kardus-kardus itu. Keterbatasan biaya juga membuat ibunda lala tak dapat berbuat apa selain hanya berdoa kepada Allah dan berharap ada seseorang yang menolongnya. Kini, lala hanya tinggal dengan seorang nenek yang usianya pun sudah tidak dapat dikatakan muda. Pandangannya mulai berbayang, berdiri pun sudah tidak sempurna, badannya telah bungkuk. Lala tak dapat berharap banyak dari sang nenek, di usianya yang masih terbilang belia sudah harus memikirkan bagaimana kerasnya berjuang untuk hidup dan menghidupi seorang nenek yang sakit-sakitan.

Sore itu lala bertemu seorang perempuan lusuh dengan membawa tumpukan sampah yang ia taruh dipunggung. Lala pun bertanya pada ibu itu “Permisi bu, ibu sedang apa? Mengapa ibu membawa tumpukan sampah-sampah yang sangat kotor dan baunya pun tak sedap”, ibu itu pun menjawab “ibu sedang memulung nak” jawab ibu dengan wajah penuh dengan keringat. “Memulung itu apa bu? Untuk apa ibu lakukan ini semua?” tanya lala. “ibu memulung demi anak ibu nak, semua sampah-sampah yang ibu kumpulkan ini demi menghidupi anak-anak ibu dan juga suami ibu yang harus berobat kerumah sakit” jawab ibu dengan lirih. “Bu, bolehkah aku ikut ibu memulung agar aku dapat menukarkan sampah-sampah ini dengan uang bu” pinta lala. “Kalau kamu mau boleh saja, tapi jangan kamu ambil sampah-sampah di komplek ini. Karena ini adalah bagianku. Pergilah ke arah sana (sambil menunjuk ke jalan yang lain) untuk mendapatkan sampah-sampah, tapi berhati-hati lah. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerjakan pekerjaan berat ini, nak” ada rasa cemas yang ibu itu tampakan melihat lala yang terlalu kecil untuk membawa beban-beban ini

Keesokan harinya, lala pun pergi kejalan yang ibu itu tunjukan padanya. Satu per-satu rumah ia kunjungi demi mengais sampah yang ada di dalamnya. Hari itu lala belum makan, lala berharap ada sisa makanan dari sampah-sampah yang ia kunjungi. Alhamdulillah, ada sebungkus sisa nasi yang ia temukan. baunya sudah tak sedap, nasinya sudah mengering, belum lagi sudah muncul binatang-binatang kotor yang ada dari sampah. Lala merasa jijik dengan makanan itu, namun jika ia tak makan, genap sudah hampir 2 tak ada sesuap nasi yang masuk ke dalam  perut Lala. selain itu, lala harus memikirkan kondisi sang nenek yang tak mungkin ia biarkan di gubuk seorang diri. Lala buang jauh pikiran jijik yang ia rasakan, ia bersihkan makanan itu sedikit demi sedikit hingga terlihat pantas untuk dimakan, dengan mengucap basamallah lala lahap sekali menyantap makanan itu.

Sudah lama aku mengenal gadis kecil itu, lala memiliki mata yang bulat, wajah yang putih dan bersih dan suara khas lala yang sampai saat ini masih terngiang dalam benakku. Sungguh, rasanya tak bisa ku lupakan wajah manis yang tersirat dari dirinya. Senyumnya yang selalu ia berikan padaku di saat senja datang saat aku pulang kuliah. Sudah hampir 2 pekan aku tak melihat wajahnya di sudut kota ataupun di taman yang biasa aku temukan ia bersama boneka teddy bear lusuh yang selalu ia bawa kemana-mana. Aku mulai mencari kemanakah gadis mungil itu, sang pemberiku semangat disaat aku letih setelah seharian penuh aku bekerja. Aku tanya keberadaan lala dengan pedagang kaki lima disekitar, kupikir mungkin mereka mengenal lala karena lala sering berbicara dengan salah satu pedagang yang ada disini. Seorang pedagang berkata padaku "Ade cari anak kecil berambut panjang itu? Sudah lama nak ia tak mampir ke warung ibu. Terakhir dia cerita dengan ibu kalau neneknya sakit keras dan ia harus menjaga neneknya dirumah", saat itu aku berpikir bagaimana bisa seorang anak kecil menjaga seorang nenek yang sakit parah. Aku pun belum tentu jika aku dikondisikan seperti kondisi lala. Tak pikir panjang, aku pun bertanya lagi pada seorang ibu penjaga warung kecil tersebut. "Ibu tau nggak kira-kira lala tinggal dimana?", "Wah ibu kurang tau nak, tapi ia dulu pernah berkata kalau rumahnya berada di pinggir jalan delima dekat jembatan merah itu nak. Mungkin kamu bisa tanyakan dengan warga disekitar sana" ibu itu menjabarkan rumah lala padaku. Sesampainya di jalan itu, kutemukan rumah lala disudut jembatan yang ibu tadi katakan padaku. Aku mengenali betul suara lala, kudengar seperti ada suara lala yang mengarah dari rumah yang bisa ku bilang adalah gubuk yang tak layak untuk ditempati. Sesampainya didepan rumah itu, ku ketuk pintunya, ku ucapkan salam tapi tak kunjung ada jawaban dari rumah itu. Akhirnya kuberanikan memanggil lala dari arah luar. Sebelum selesai ku panggil ada seorang bapak tua menyapaku "Permisi dek, adek cari nenek ros?", "nenek ros?" tanyaku dalam hati. Ahh . . mungkin nenek ros itu adalah nenek dari lala. "emmm . . . iya pak. nenek ros yang tinggal dirumah ini? benarkah ia tinggal bersama cucunya dirumah ini?" tanyaku kepada bapak tua itu. "betul dek, tapi sudah lama ia tak tinggal disini. Memangnya kalau bapak boleh tau, adek ini siapa? karena setau saya nenek ros hanya memiliki 1 orang cucu. Ia tak punya lagi saudara yang lain." bapak itu mulai bertanya menanyakan perihal siapa diriku. "Saya hanya seorang mahasiswi pak, kebetulan sedang menyelesaikan thesis saya. Kebetulan lala (cucu dari nenek ros) yang menjadi bahan penelitian saya. saya sering bertemu ros di taman juanda. Sempat ngobrol-ngobrol juga dengan lala. Namun, belakangan ini saya tidak pernah bertemu lala lagi, maka dari itu pak saya datang kesini untuk menemui lala. Bapak tau keberadaannya pak?".
"Nak, lala dan neneknya .............."


-bersambung-
Read More »